Minggu, November 08, 2009

Repotnya masak

Sabtu 07/11, sehabis main dari tempat kerja mampir ke pos keamanan sekedar beramah-tamah dengan bapak-bapak yang seketika itu berada disana. Bercerita kalau bapak-bapak habis dari tempat mancing dan membawa hasil pancingan. Iseng, ditawari untuk dibawa pulang. Hmm.. sejenak berpikir.. mau dimasak apa? toh juga belum pernah sengaja masak beneran (kecuali : masak air dan bikin mi instan :D ). Pukul empat sore akhirnya, dua ekor ikan bawal sebesar telapak tangan di bawa pulang, sambil mikir dijalan ketika berkendara pulang mau dibikin apa lagian dirumah tak ada rempah-rempah untuk masak.

Sesampainya di rumah, sudah terbayang dalam pikiran untuk di goreng garing saja. Pisau, plastik dan piring, sudah sedia sambil mengingat masa lalu ketika masih di rumah bebrapa puluh tahun yang lalu membantu ibu mengolah ikan bandeng. Mulai mebelah bagian perut (namun sayang, pisau kurang tajam.. :D ya terang saja tidak pernah di asah dan biasanya hanya untuk keperluan potong roti) semerbak bau amis sudah mulai tercium, isi perut sukses dikeluarkan, lanjut mengikis sisik ikan... wah ini bagian yang seru, sisik ikan nyebar kemana-mana :D. Oke, keduanya sudah bersih dan siap di goreng namun ada yang kurang... hmm yup garam. Hadduh, pergi ke warung yang ada garam balok isi 10 biji, hah.. buat apa beli sebanyak itu akhirnya urung untuk beli.

Tak ada wajan panci anti gores pun jadi, minyak dituang dalam panci lalu hidupin kompor. Begitu minyak panas, ikan dimasukkan ups.... lari...! hahaha.. bunyi pletak-pletok minyak panas muncrat kemana-mana. Hingga menjelang maghrib baru selesai dan bau minyak goreng menyelimuti ruangan. Dinding, lantai, kompor terdapat bercak-bercak minyak.. fyuuhh.. langsung saja dilap.

Break untuk mandi lalu shalat maghrib. Pukul 18.40, menanak nasi (kalo ini sih otomatis tinggal masukkan beras ke magic comb tunggu beberapa menit langsung jadi nasi). Satu jam kemudian, Bawal goreng, nasi putih hangat, kecap manis dan saus sambal siap disajikan. Hmm.. teringat ibu di kampung begitu repotnya nyiapin makan untuk keluarga. Dan selamat makan malam.

Senin, Agustus 17, 2009

Manggung untuk yang pertama

Jumat 24/08, sekitar 6 bulan yang lalu berdiri dan telah berlatih di setiap hari ahad sore, pada akhirnya malam ini penampilan perdana dalam Kemah Budaya yang diadakan oleh Balai Budaya Minomartani. Sekitar pukul 19.00 kami sudah berkumpul di kediaman Bp Zainal di daerah klebengan. Sehabis shalat isya berjamaah di mesjid depan rumah beliau, sembari menunggu rekan-rekan yang lain datang kami bersiap-siap mengenakan pakaian daerah (DIY, blangkon, sorjan, dan jarik). Kurang lebih 30 menit kemudian kami sudah siap dengan pakaian dengan jumlah personil yang berkumpul di kediaman tersebut sebanyak 9 orang (sisa rekan yang lain sudah menunggu di tempat acara, dikarenakan letak geografis yang dekat dengan tempat acara sehingga diputuskan untuk menunggu disana).

Berinisiatif untuk foto bersama di serambi mesjid, 9 orang berjajar :D salah seorang rekan kami menyebut-nyebut 'Wali Songo', hahaha.. ya tentu saja gelak tawa tak tertahan keluar. Sembilan orang berpakaian tradisonal jawa, dengan blangkon dan baju sorjan bermotif sama (sengaja pesan) namun untuk jarik (istilah bahasa jawa untuk stelan bawahan) motif beraneka ragam. Setelah itu kami bergegas masuk ke mobil dan meluncur ke tempat acara.

Sesampainya di sana sekitar pukul 20.00, acara sudah di dimulai, nampak pembawa acara sudah berada di depan panggung, ya beliau adalah termasuk pengelola Balai Budaya tersebut dan sekaligus instruktur kami dalam latihan. Dalam pembukaan acara tersebut, beliau memperkenalkan aturan main serta memperkenalkan kelompok-kelompok yang akan tampil pada malam itu (sebanyak 8 kelompok, dan sudah ditentukan urutannya, setiap kelompok diberi waktu sekitar 30 menit atau lebih untuk menunjukkan kebolehannya) dan kebetulan kelompok kami berada di urutan yang kedua (barangkali sudah di set sedemikian rupa karena dan mengingat kakmi belum begitu mahir dalam memainkannya sehingga di letakkan di awal hehehe..). Membaur dengan kelompok lainnya sangat menyenangkan, ada yang masih muda seusia kami dan ada pula ibu-ibu yang sudah sangat tua, mungkin lebih tepat disebut nenek-nenek dan kakek-kakek :D, salut untuk beliau-beliau yang diusia renta ini masih peduli dengan budaya jawa.

Pukul 20.45, kelompok pertama berhasil tampil dengan sukses dan mendapat tepuk tangan yang meriah, saatnya kelompok kami bermain. Nampak berbeda dengan kelompok lain, kelompok kami beranggotakan laki-laki semua (berjumlah 14 orang). Dengan berbekal latihan yang telah kami lakukan kami bersemangat memainkan tembang yang pertama, lalu kedua, dan yang terakhir ketiga. Tak kalah meriahnya sambutan tepuk tangan plus gelak tawa, ya.. pada tembang yang ketiga nampaknya rekan-rekan kehilangan alur tembangnya sehingga pada bagian-bagian tertentu tembang yang dimainkan terdengar tidak sebenarnya. Namun kami lega dan gembira dan tertawa saling menyalahkan hehehe.. maklum kami belum mahir.

Sesuai aturan main pertunjukan, kelompok yang sudah tampil tidak diperkenankan pulang karena untuk solidaritas kepada kelompok yang lain. Hingga bebrapa kelompok kami tonton, jauh dari kemampuan yang kami miliki kelompok lain begitu hebatnya dalam memainkan tembang-tembang (walaupun terkadang saya melihat salah seorang atau salah seorang yang lain tertawa kecil sendiri, menggeleng-gelengkankan kepala menandakan kesalahan yang ia perbuat hehehe....). Memang dari kelompok-kelompok yang ditampilkan adalah kelompok yang berlatih di bawah asuhan Balai Budaya ini.

Jam menunjukkan pukul 22.30, lima kelompok sudah menunjukkan kebolehannya dalam memainkan tembang-tembang, rasa kantuk dan lelah mulai menghampiri. Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan. Diperjalanan pulang kami mampir di warung untuk makan (dengan menu bakmi jowo dan wedang ronde untuk minumnya) sembari masih bercerita tentang acara tadi. Akhirnya sampe rumah pukul 00.30, huh.. capeknya..

Sabtu, Mei 16, 2009

Asthenophia

Jumat 16:30, selesai dari tempat kerja langsung menuju rs dr yap, di jl cik ditiro. Ini pertama kalinya memeriksakan mata di rumah sakit spesialis mata (dulu waktu masih di bangku sma sudah pengen sekali pake kaca mata namun karena hasil tesnya selalu normal jadi ngga jadi :D). Hampir tiga minggu terakhir ini indra penglihatan ini terasa kurang nyaman, dan sedikit bengkak, dan berwarna merah. Mengkonsumsi vitamin tambahan untuk mata kurang membantu memulihkan keadaan ini. Setelah tanya-tanya dengan rekan-rekan kerja, akhirnya saya memutuskan untuk memriksakannya.

Berbeda dengan rs umum, nampak rs ini lengang tidak banyak antrian dan lantainya sangat bersih. setelah mendaftar dapat nomor urut 19, padahal dokter mulai prakter pukul 5 sore (masih ada sekitar 20 menit dari waktu sekarang). Masuk ke ruang rawat jalan 1, di terima oleh perawat dengan baju muslim warna hijau :D. Dites mbaca huruf2 dari besar sampe kecil, ditanya keluhan yang dialami, dan disuruh nunggu giliran ketemu sama dokter.

Hmm.. ngantuk, menunggu di luar sambil sedikit2 memejamkan mata, pukul 18.00 menuju ke tempat sholat (berada di ujung barat). Hingga pukul 18.35 tiba giliran nama saya dipanggil. Hmm.. ketemu sama bu dokter pake jilbab dan berkacamata. OK.. pemeriksaan dimulai, mata kanan dan kiri di teropong satu persatu, lalu tes baca lagi dengan kacamata berlensa banyak. Hasilnya.. bu dokter berkata "masih bagus, kecapean saja, nanti di tetes sekali saja kalo dalam sepuluh hari tidak ada kemajuan nanti datang lagi, banyak makan sayur dan buah ya", mm kurang dari 5 menit sudah selesai (nampak nya bu dokter ini buru sekali, susah mau ngajak ngobrol..:D).

Ke bagian farmasi ambil obat (hanya di kasih tetes mata).. lalu ke kassa, lalu bikin surat claim.. biar dapet ganti hehehe..

Selasa, Mei 05, 2009

Kopi

Hmm.. sebenernya sudah lama jauh dari minuman kopi.

Beberapa minggu terakhir ini sangat cepat terasa, pagi-siang-sore-malam melaju dengan cepat. Setidaknya hari ini, melihat botol-botol berisi kopi dan kremer tertata di sebelah dispenser, menjadi ingin merasakan kopi lagi. Secangkir untuk pagi dan secangkir lagi untuk sore ini.

Lebih memilih teh, untuk aroma teh.. ngga ada yang ngalahin wanginya, warna seduhannya, dan hangatnya, mmm nikmat sekali. Walaupun cara penyajiannya tidak seperti dalam filem-filem Cina yang di sajikan secara tradisonal oleh wanita (dalam filem Red Cliff).

Kafein, zat yang terkandung dalam minuman kopi dipercaya dapat menghilangkan rasa ngantuk. Namun dari efek yang ditimbulkan bagi saya setidaknya.. lidah menjadi pahit, menjadi lebih sering ingin ke toilet (pipis), cepat lapar, jantung berdebar. Cukup segini saja.. dari pada nambah secangkir lagi, bisa berabe.. selamat malam.

Selasa, Maret 24, 2009

Kelahiran dan kematian yang silih berganti

Jumat 20/3, hari ini nampak sangat berbeda. Masih menyisakan rasa sakit setelah kram kaki menyerang tadi malam sekitar pukul 11 malam, untuk yang pertama kalinya terjadi. Mungkin terlalu letih setelah sehari sebelumnya melakukan aktifitas yang tidak biasa dilakukan instalasi kabel audio-video sepanjang 90mx2 dan hari ini absen dari jadwal rutin senam aerobik pagi.
Dua berita menghampiri suasana kerja yang baru saja saya mulai. Yang pertama datang adalah berita duka dari famili salah satu rekan kerja (beliau duduk disamping kiri meja saya). Innalillahi wa inna illaihi rojiuun, seketika itu pula rencana takziah disepakati pukul 11 siang.

Dengan bersepeda motor bersama 10 rekan lainnya berangkat menuju ke rumah duka. Rumah beliau tidak jauh dari stadion lapangan bola Maguwoharjo Sleman. Terik matahari yang menyengat, serta udara yang panas menjadi terbiasa karena memang beberapa hari terakhir ini cuacanya sangat tidak nyaman. Sesampainya di rumah duka kami bercakap-cakap sebentar sembari menunggu waktu Jumatan. Hamparan sawah masih sangat luas dan empang berisi ikan tawar hampir ada di setiap pekarangan rumah warga menjadi pokok pembicaran kami (pembicaraan ini juga sering mewarnai di tempat kerja). Setalah selesai melaksanakan ibadah sholat Jumat, lalu kembali kerumah duka dan melakukan sholat jenazah lalu kemudian berpamitan.

Berita yang kedua saya peroleh dari mail forum, disebutkan disana bahwa salah satu rekan kerja dibagian yang lain tadi malam baru saja melahirkan seorang putri. Alhamdulillah, tambah satu lagi seoarang ibu. Walau dari bagian yang berbeda namun saya cukup akrab dengan beliau sehingga ada keinginan untuk menjenguk beliau lebih awal (disamping itu pula kebetulan pondok bersalin tidak terlalu jauh dengan dimana saya tinggal). Sesampainya disana, warna-warna wajah kegembiraan menyambut, melihat bayi perempuan yang mungil tertidur dan masih terbungkus kain yang rapat. Tidak jauh berbeda dengan di tempat kerja, bersendau gurau, dan bercerita proses kelahiran sambil diselingi ejekan-ejekan ringan, sangat hangat sekali berkumpul dengan mereka.

Ajal tidak ada satu orang pun tahu kapan datangnya, ketika isyarat-isyarat melalui kejadian sebelumnya maupun dari mimpi terkadang di cocok-cocokkan demmikian disebut-sebut sebagai firasat. Tak jauh beda dengan kelahiran walaupun secara medis usia kandungan adalah 9 bulan terkadang belum tentu tepat, bisa saja belum genap 9 bulan atau bahkan bisa lebih dari 9 bulan.
Tidak ada suatu apapun yang dapat menghalangi jika Tuhan telah berkehendak.

Kamis, Desember 11, 2008

Kejar setoran abaikan keselamatan

Sabtu 6/12, perjalanan dari Jombor nampak normal dan biasa. Begitu jam pemberangkatan sudah tiba, langsung berangkat entah berpenumpang penuh atau tidak. Dulu, "bumel" istilah angkutan darat dengan tarif ekonomi Non AC (sumber:www.nu3tara.com) adalah alternatif angkutan dengan tarif murah hampir separuh tarif angkutan PATAS.
Hampir setengah perjalanan ditemani rasa kantuk, tiba-tiba saja terasa seperti terbentur dengan keras. Seketika rasa ngantuk langsung hilang, ohh.. ternayata bis membentur bagian belakang truk pengangkut pasir sehingga bis berhenti mendadak dan penumpang terhentak ke depan. Di samping saya seorang ibu sampai keluar darah di bagian hidungnya, mungkin ibu itu juga terbentur ke sandaran kursi di depannya. Melihat ke bagian depan, para penumpang sudah mulai ribut dan menyebut kalimat-kalimat religi sambil berdiri dan berjalan menuju ke bagian belakang. Nampak dengan jelas kaca depan hampir seluruhnya retak, mungkin karena dipasang kaca film sehingga tidak berhamburan.
Beberapa waktu kemudian, pak kondektur lansung mengalihkan penumpang ke bis di belakangnya. Tentu bis tersebut menjadi sangat padat. Diperjalanan, terdengar pembicaraan tentang kejadian tadi, kata mereka bis tersebut tidak mau berjalan cepat dari pemberangkatan (umumnya bis tarif ekonomi sangat cepat melakukan manuver di jalan raya :D), ada juga yang bilang bis tersebut tidak mau mendahului kendaraan lainnya, kemudian ada juga yang bilang ketika jalanan menurun rem tidak bekerja maksimal sehingga menabrak kendaraan di depannya, ada juga yang bilang untuk yang di depan truk bermuatan pasir sehingga bis dapat tertahan ketika tidak bisa berhenti.
Kondisi angkutan publik memang begitu adanya, apalagi tipe transportasi dengan tarif "Ekonomi" bisa ditebak bagaimana wujud angkutannya dan pelayanannya.
Alhamdulillah, penumpang semuanya selamat.